Kenapa Biaya Akses Internet di Indonesia Mahal?

Sekedarshare11.blogspot.com, Biaya akses internet di Indonesia memang tergolong mahal.Walaupun mahal, kualitas koneksi pun sangat rendah. Bahkan sebagian besar wilayah di bagian tengah dan timur tidak didukung oleh infrastruktur akses internet yang memadai.


Oleh karena itu, akses internet berkualitas hanya bisa diperoleh oleh beberapa orang saja di negeri ini.

Beberapa alasan kenapa internet Indonesia itu biayanya tergolong mahal :

Beban Biaya Backbone

Indonesia karena letaknya di khatulistiwa, membutuhkan kabel backbone lebih panjang dan routing yang lebih jauh.

Hal ini jauh berbeda dengan Jepang dan Taiwan misalnya, yang mempunyai backbone langsung ke Amerika Serikat, jarak backbone-nya lebih pendek.

Karena butuh routing dan backbone yang lebih panjang, biaya investasi yang dibutuhkan menjadi mahal.

Untuk routing sendiri, juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Koneksi internet indonesia memiliki 2 route saja, Singapura dan Australia.

Bandingkan dengan Jepang yang memiliki banyak route ke Korea, China, Rusia, Amerika, Taiwan dan masih banyak lagi.

Semakin banyak route, semakin kompetitif harga yang akan diberikan pemilik backbone tier1

backbone adalah jalur utama internet, biasanya berbentuk fiber optik di dasar laut, tier1=backbone internet tingkat 1

Penguasaan Oleh Pemerintah

Diduga, karena adanya perusahaan pelat merah pengelola telekomunikasi Indonesia, internet seakan-akan dimonopoli oleh pemerintah.

Perusahaan non pemerintah pun dikontrol dengan pajak dan izin yang lumayan besar hingga tidak mampu bersaing dengan perusahaan pemerintah.

Selain itu, pemerintah cenderung malas membangun kebutuhan infrastruktur yang secara langsung mendukung akses internet.

5 Mahasiswa UMY Kembangkan Listrik Surya

Prihatin dengan kerapnya pemadaman listrik dari PLN yang berdampak buruk terhadap produktivitas pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM), 5 mahasiswa Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengembangkan Solarcell Home System (SHS) sebagai sumber energi sekunder.


Kelima mahasiswa tersebut adalah Ilham Lutfil Anam, Adi wahyudianto, Afief Amrullah, M. Sholeh Masnawan, dan Fikri Ali. Nawawi.  Menurut, Ilham Lutfil Anam, pelaku UMKM kerap mengeluhkan penurunan produktivitas akibat pemadaman bergilir. Selain itu, beban puncak di malam hari membuat para pelaku UMKM tidak dapat bekerja saat malam hari.
"Oleh karena itu diperlukan energi alternatif bagi para UMKM. Sehingga mereka dapat tetap bekerja ketika listrik sedang mengalami gangguan atau dalam proses perbaikan." kata Ilham, Jumat (5/8/2011).  

"Kami membuat Solarcell Home System atau Sistem Listrik Surya Skala Kecil. Alat ini kami kolaborasikan dengan kinerja listrik dari PLN. Dengan kolaborasi ini, jika terjadi pemadaman listrik, pelaku UMKM tetap dapat bekerja," paparnya.
Cara kerja alat itu, dimulai dengan pemasangan panel surya. Sinar matahari akan ditangkap oleh panel surya. Kemudian energi sinar tersebut melalui Solar Charge regulator (SCR) tersimpan di batere. Saat listrik PLN mati, secara otomatis Automatic Transfer Switch (ATS) akan menyala. 

"Sehingga listrik yang berasal dari batere kemudian melalui SCR akan mengalir ke inverter yang berfungsi mengubah tegangan DC menjadi AC, kemudian dialirkan untuk menggantikan energi listrik PLN," katanya.
"Perpindahan tersebut tidak membutuhkan waktu lama. Seperti halnya ketika menggunakan generator set (genset) yang masih memerlukan waktu untuk menyalakan listrik," kata Ilham lagi. 

Berbagai keuntungan diperoleh dengan penggunaan sistem ini. Antara lain, potensi radiasi matahari di Indonesia yang tinggi dan merata memudahkan pemanfaatan metode ini. Selain itu, SHS juga tidak membutuhkan bahan bakar, serta ramah lingkungan karena bebas polusi udara dan suara. 

Perawatan alat ini pun tergolong mudah dan sederhana. Sebab, dalam proses kerjanya tidak ada komponen yang bergerak. Karya ini telah diujicobakan di salah satu UMKM konveksi di Jawa Tengah.

Seberapa Sering Harus Menimbang Badan?

Mereka yang sedang melakukan program penurunan berat badan tentu rajin menimbang berat badan untuk mengetahui ada tidaknya pertambahan berat badan. Namun ternyata tidak semua orang disarankan untuk rutin memonitor berat badan.


Penelitian menunjukkan menimbang badan secara teratur, baik itu setiap hari atau seminggu sekali, sangat membantu program pelangsingan yang sedang dilakukan. Kita juga lebih waspada jika ada hal yang perlu dikoreksi. Kebiasaan itu sama baiknya dengan menjalankan pola makan yang sehat. 

Akan tetapi jika tujuan Anda berolahraga adalah untuk meningkatkan kesehatan dan stamina, sebaiknya Anda jangan terlalu sering menimbang badan.
Hal ini karena timbangan biasanya tidak bisa membedakan lemak dengan otot sehingga angka di timbangan bisa menunjukkan angka yang tinggi padahal sebenarnya yang bertambah adalah massa otot. Itu sebabnya mengapa para atlet yang memiliki lemak tubuh rendah namun massa otto tinggi bisa dikategorikan obesitas berdasarkan angka timbangan.
Selain timbangan, cara lain untuk mengetahui apakah berat badan kita sudah ideal adalah dengan mengukur lingkar pinggang.

Gadis Ini Langsung "Hamil" Seusai Makan

Kerri Dowdswell adalah seorang wanita muda berusia 23 tahun yang memiliki tubuh ramping. Awalnya, ia tak pernah punya masalah dengan ukuran celana jinsnya. Namun, kini ia sering mengeluhkan hal itu. Pasalnya, beberapa menit setelah makan, Kerri mengalami kondisi yang misterius. Perutnya menjadi begitu kembung layaknya seorang ibu hamil.
Anehnya dalam hitungan jam, perut Kerri menyusut kembali ke ukuran normal. Masalah yang kini dihadapi Kerri adalah, setiap makan di luar, ia harus memakai celana untuk ibu hamil.

Kondisi Kerri yang disebut dengan istilah "food baby" tersebut telah membingungkan para dokter sejak satu dekade ini, dan para dokter mencoba untuk menemukan penyebabnya. Tes alergi makanan dan intoleransi pada Kerri hasilnya negatif. Meski usaha menyingkirkan beberapa jenis makanan dalam daftar diet telah dilakukan, tetap saja kondisi perutnya tak kunjung membaik.


"Ini benar-benar memalukan. Saya menjaga apa yang saya makan dan olahraga secara teratur, tetapi perut Saya tetap seperti ini," kata Kerri yang berasal dari Cannock Staffordshire.


"Beberapa orang bertanya, kapan melahirkan? Setiap orang mempertanyakan hal itu sehingga harus dijelaskan berkali-kali bahwa bahwa saya bukan ibu hamil. Perut ini membesar karena daging yang saya makan," tambahnya.


Setiap kali makan di luar, Kerri harus memakai sesuatu yang longgar. Ia harus membeli celana jins yang bagian pinggangnya elastis karena hanya dengan celana itu Kerri merasa nyaman.


Menurutnya, tak ada petunjuk soal penyebab perutnya membesar. "Memakan sepotong biskuit kecil atau buah saja terkadang membuat perut ini sudah menggelembung, dan celana saya tiba-tiba tak muat," kata dia.


Keanehan ini mulai dialami Kerri saat ia menginjak masa puber, dan kini keadaannya semakin parah. Awalnya, dokter menduga hal ini akibat reaksi gluten. Namun meski ia menghindari produk gandum, perutnya tetap saja membesar.


"Sekitar satu tahun, saya menjalani gaya hidup vegetarian, tak makan daging merah, gandum, atau produk susu. Namun itu sia-sia. Perut tetap membesar. Saat ini, saya tak pernah menikmati makanan," tuturnya.


Perut Kerri membesar seketika seusai makan atau 15 menit setelahnya. Namun, dalam beberapa kasus, pembesaran baru muncul beberapa jam kemudian. Kerri juga butuh waktu berjam-jam untuk menunggu perutnya kembali dalam bentuk normal.

Facebook Diminta Hapus Fitur Facial Recognition

Fitur kontroversial pengenalan wajah atau Facial Recognition milik Facebook menuai penolakan di Jerman. Pemerintah Jerman telah meminta agar fitur pengenalan wajah tersebut dinonaktifkan karena telah melanggar ketentuan privasi di Jerman dan Uni Eropa. 


Sebelumnya di Inggris telah terjadi penolakan serupa karena sebelumnya Facebook tidak memberitahukan secara resmi tentang pengaktifan fitur pengenalan wajah ini.
Fitur Facial Recognition adalah fitur yang menyarankan kepada mereka yang mengupload foto untuk men-tag foto yang ada di Facebook. Fitur ini kontroversial karena menyarankan kepada pengguna secara otomatis siapa yang akan di-tag sehingga bisa saja nama seseorang muncul dalam sebuah foto tanpa diketahuinya di mana foto tersebut persisnya berada. Jika seseorang ada dalam foto yang diupload maka namanya otomatis akan disarankan untuk di-tag sehingga tentu saja fotonya bisa beredar di mana saja karena bukan dia saja yang berteman dengan yang melakukan tag terhadap foto tersebut.

Hal yang lebih memprihatinkan adalah saat fitur ini diaktifkan oleh Facebook, fitur ini akan otomatis terpasang di akun pengguna Facebook. Tampaknya menurut Reuters beberapa waktu yang lalu, pengguna tidak puas dengan kebijakan Facebook yang menyebabkan mereka dikenal tanpa diberitahu terlebih dahulu. Sebagian pengguna Facebook yang lain mengeluhkan fitur ini diaktifkan tanpa pemberitahuan.

Pemerhati keamanan Facebook, Sophos melaporkan ada miliaran foto yang tersimpan di server Facebook. Jika teman anda mengupload album foto tertentu, Facebook akan menentukan apakah di salah satu dari sekian banyak foto yang diupload tersebut ada wajah anda. Jika Facebook menemukan ada wajah anda di sana, maka Facebook akan memberikan saran otomatis agar anda di-tag, padahal belum tentu anda mau di-tag. Dengan di-tag, nama dan wajah anda akan beredar lebih dari yang anda perkirakan dan menimbulkan makin kurangnya privasi anda di Facebook.



Melihat efek privasi dari fitur Facial Recognition ini, Data Protection Authority (DPA) Hamburg memperingatkan Facebook yang secara diam-diam meluncurkan fitur ini di kawasan Eropa beberapa waktu yang lalu bisa didenda bila gagal menghapus data biometrik yang mereka ambil dari teknologi Facial Recognition tersebut. Menurut DPA, Facebook telah melanggar ketentuan perundang-undangan yang mengatur privasi di Jerman dan di Uni Eropa. Dr. Johannes Caspar komisioner DPA meminta Facebook untuk segera menanggapi keluhan ini.

DPA juga telah mengirimkan surat kepada Facebook agar terlebih dahulu meminta izin pengguna sebelum mengambil data biometrik pengguna dengan teknologi Facial Recognition sebagaimana dinyatakan dalan undang-undang privasi Uni Eropa. Meskipun pengguna dapat mengubah pengaturan privasi dengan mematikan fitur Face Recogniiton ini, DPA masih menilai bahwa Facebook masih invasif. DPA telah berulang kali meminta Facebook untuk mematikan/menghapus fitur Facial recognition dari Facebook. Facebook memiliki waktu dua minggu untuk menanggapi surat dari DPA dan bisa didenda sekitar 300 ribu euro (sekitar 427 ribu dollar AS) bila kesepakatan tidak tercapai.

Facebook melalui jurubicaranya,  Tina Kulow, membantah bahwa teknologi Face Recognition tersebut telah melanggar ketentuan privasi di Jerman dan Eropa.  Menurutnya Facebook akan mempertimbangkan keluhan mengenai saran tag foto otomatis, namun menolak dikatakan telah melanggar ketentuan privasi di Uni Eropa. Ia berkilah ada banyak pengguna Facebook dengan fitur ini membuatnya lebih mudah dan lebih aman untuk mengelola identitas online mereka.

Bagaimana dengan di Indonesia yang jumlah pengguna Facebooknya terbesar kedua di dunia? Sejauh ini tidak ada keluhan, mungkin karena sangat kecanduan dengan Facebook sehingga tidak awas dengan bahaya yang mengintai.

Melihat penolakan Facebook ini, semakin jelas bahwa Facebook memang hampir tidak pernah menanggapi keluhan penggunanya. Bagi anda yang masih setia menggunakan Facebook, perlu berhati-hati, foto-foto yang menunjukkan diri anda bisa saja suatu saat muncul di tempat yang di luar perkiraan anda. Mengapa? Karena pengguna Facebook sudah lebih dari 700 juta orang. Anda tidak hanya berteman dengan satu orang, mungkin ada yang ratusan. Kemungkian teman yang men-tag foto anda berteman dengan banyak orang lainnya secara serampangan dan akan men-tag foto yang ada anda didalamnya sehingga identitas anda akan tersebar secara masih, mungkin nantinya tidak aneh bila foto anda menghiasi situs kencan online atau situs dewasa lainnya.

Tawarkan Hadiah Rp 2 Miliar, Microsoft Tantang "Hacker"

Microsoft menantang para hacker untuk mengembangkan pendekatan baru dalam mengupayakan keamanan komputer lewat ajang Blue Hat Prize. Bagi hacker yang memenangkan kompetisi ini, Microsoft berjanji akan memberi hadiah uang tunai sebesar 250.000 dollar AS atau lebih dari Rp 2 miliar.


Berdasarkan keterangan Kate Missouris, pimpinan senior Microsoft's Trustworthy Computing Group, tujuan dari kompetisi tersebut ialah menyelesaikan masalah security dengan mengeksploitasi upaya mitigasi atau meningkatkan efektivitas dari solusi mitigasi yang ada sekarang.

"Microsoft ingin lebih memotivasi mereka yang ahli dalam keamanan teknologi informasi untuk memikirkan cara mengurangi serangan pada perangkat komputer," ungkap Missouris seperti dikutip situs TechFlash, Rabu (3/8/2011). Saat ini, Microsoft telah menggunakan beberapa teknologi anti-eksploitasi, seperti DEP, ASLR, dan SEHOP, untuk melawan penyusupan ke komputer tanpa izin.

Missouris mengatakan, Blue Hat Prize adalah penghargaan terbesar yang diberikan dalam teknologi pengamanan komputer. Ia berharap para hacker, peneliti security, dan akademisi ikut serta dalam kompetisi ini dan mengembangkan software yang tahan serangan dalam platform Windows.

"Kami percaya bahwa Blue Hat Prize bisa memotivasi peneliti dan akademisi paling bertalenta untuk menghadapi tantangan dalam masalah security serta menawarkan kesempatan bagi mereka untuk memberi sumbangsih pada dunia," kata Missouris lagi.
Bagi yang ingin mengikuti kompetisi ini, Microsoft menawarkan dua masalah yang sesuai, yakni space information disclosure dan return-oriented programming (ROP). Meski demikian, kontestan bebas memilih masalah lainnya.

Solusi yang dikembangkan harus memenuhi 5 syarat, di antaranya memiliki CPU dan memory cost tak lebih dari 5 persen, bisa berfungsi di platform Windows, dan dikembangkan dengan Microsoft Windows SDK. Deadline penyerahan adalah 1 April 2012.

Tertarik ikut? Pemenang pertama akan mendapatkan 200.000 dollar AS dan pemenang kedua 50.000 dollar AS. Sementara pemenang ketiga akan mendapat Microsoft Developer Netywork Universal Subscription yang meliputi akses ke Visual Studio dan platform lainnya senilai 10.000 dollar AS. Pemenang aklan mendapatkan hak paten atas karyanya. Namun, Microsoft tak menawarkan royalti apa pun.

Benarkah Pekerja AS Malas?

Salah satu sasaran kemarahan warga dan bahkan elite AS di balik tumpukan utang dan masalah ekonomi yang tumbuh lambat adalah produktivitas pekerja AS. Bahkan ucapan "pekerja yang malas" juga mencuat saat krisis ekonomi AS tahun 2008. Krisis ini turut membangkrutkan perusahaan-perusahaan AS, termasuk General Motors. 


Krisis ekonomi ini memaksa pemerintah AS mengeluarkan dana 800 miliar dollar AS untuk menolong korporasi AS, yang kesulitan dana. Pada 24 November 2008 misalnya, Ron Paul, meluncurkan tulisan "Oh No, Not Another Bailout!" di situsnya RonPaul.com. Tulisan ini memicu komentar soal pekerja AS, yang dianggap tidak rajin untuk tidak mengatakan malas.
Ron Paul adalah anggota DPR (House of Representatiives) dari Partai Republik, dan pernah menjadi bakal calon presiden AS dari partai Republik pada pemilu presiden AS tahun 2008 lalu.

Krisis 2008, seperti menghidupkan lagi polemik yang juga pernah muncul tahun 1992, ketika Toyota Motor Corp, semakin menyerbu pasar otomotif AS. Di harian Los Angeles Times, edisi 21 Januari 1992, Ketua Majelis Rendah Jepang, Yoshio Sakurauchi pernah mengatakan bahwa, "Para pekerja AS malas dan tak produktif dan itulah salah satu alasan mengapa produk mereka tidak bisa menandingi standar produk Jepang..." Ini merupakan jawaban Sakurauchi, yang sudah almarhum, atas kecaman AS soal serbuan Toyota ke pasar AS.

Krisis ekonomi AS, yang kini semakin mencuat dengan tumpukan utang di atas 14,23 triliun dollar AS, juga turut menyudutkan mantan Gubernur Bank Sentral AS, Alan Greenspan.
Mantan Gubernur Bank Sentral ini dianggap berperan di balik krisis dengan menjalankan kebijakan moneter yang dinilai salah dengan mematok suku bunga rendah selama sekian tahun, yang membuat AS kebanjiran uang, dan sebagian dana-dana itu diterjemahkan ke dalam aksi-aksi spekulatif di pasar saham dan pasar modal.

Alan Greenspan (menjabat periode 1987-2006) balik menuduh aspek lain di balik kemelut ekonomi AS. Situs Business Insider mengeluarkan tulisan berjudul "Alan Greenspan Blames The Bad U.S. Economy On The Lazy Young Work Force And The U.S. Copying China ".
Greenspan bahkan mengatakan, para pekerja AS sekarang, yang telah menggantikan generasi baby boomer, bukan merupakan pekerja yang lebih baik dari yang mereka gantikan. Dia malah menyarankan agar para imigran diizinkan masuk ke AS untuk memperbaiki kinerja ekonomi AS.

Ada berbagai kombinasi sebagai penyebab kemelut ekonomi, dan salah satunya adalah tudingan soal pekerja AS yang setidaknya kurang produktif, jika misalnya dibandingkan dengan China (baca Kompas, edisi Jumat, 5 Agustus 2011).

Situs CNBC.com juga menyajikan data soal jam kerja per minggu di berbagai negara. China disebutkan memiliki jam kerja selama 44 jam selama seminggu dan memiliki libur 21 hari dalam setahun. Data ini menggunakan data dari Beijing Municipal Taxation Bureau (Income Tax), China Center for Labor and Environment (Retirement Age, Standard Work Week).
Di sisi lain AS memiliki pekerja yang dalam sepekan bekerja hanya 33,8 jam dan memiliki libur lebih lama, yakni 25 hari. Data ini diambil dari Bureau of Labor Statistics (Working Hours), AS.